Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Fishing Cat - Kucing Langka yang Berburu di Dalam Air

Kucing Hutan Langka di Dunia
Fishing Cat. Sumber: nationalzoo.si.edu

Kucing ini sekilas terlihat seperti kucing hutan pada umumnya, bulunya berwarna putih, hitam, coklat dan kemasan. Corak bulunya penuh dengan bintik-bintik dan loreng-loreng, ukuran tubuhnya dua kali lebih besar dari kucing kampung pada umumnya. Panjang fishing cat dewasa mencapai 78 cm, dan beratnya mencapai 8,8 kg.

Secara fisik kucing ini memang tidak begitu special, tapi soal berburu di dalam air, fishing cat adalah juaranya. Disaat kebanyakan kucing liar atau kucing kampung sangat takut dengan air, fishing cat justru mencari makan di dalam air. Dengan selaput yang ada di antara jari-jemarinya, kucing ini dapat berenang di air dengan sangat baik, apalagi ekornya yang pipih dapat dijadikan sebagai dayung atau kendali saat fishing cat berenang. Saat di dalam air, fishing cat akan menerkam ikan dengan cakarnya, lalu menggigitnya dan membawanya ke permukaan air lalu memakannya.

Itulah, kenapa Kucing ini diberi nama sebagai fishing cat atau kucing pemancing. Di Indonesia fishing cat populer dengan sebutan kucing bakau, karena hidup di hutan bakau. Fishing cat juga sering terlihat bermain-main dengan ikan di perairan dangkal lalu memakannya. Fishing cat tidak selamanya memakan ikan, ia sebenarnya akan memangsa hewan apapun yang ada disekitarnya, termasuk mamalia reptil dan unggas yang berukuran kecil. Dalam kasus ini, fishing cat memangsa seekor bebek yang sedang berenang, dengan teknik pengintaian dan kecepatan berburu akhirnya fishing cat berhasil memangsa bebek malang tersebut.

Fishing cat hidup di lahan basah seperti rawa dan hutan bakau. Persebarannya ada di seluruh wilayah Asia Selatan dan Tenggara, termasuk Indonesia, khususnya di pesisir utara Pulau Jawa.

Seperti keluarga kucing pada umumnya, fishing cat adalah hewan yang soliter. Fishing cat betina dan jantan akan saling bertemu hanya pada musim kawin saja. Saat berkembang biak, kucing betina biasanya akan menghasilkan dua hingga tiga anak kucing sekaligus.

Di saat usia satu bulan, anak-anak fishing cat ini sudah mulai melakukan lompatan pertamanya di dalam air. Tentu saja, mereka akan berlatih berburu ikan. Sayangnya, fishing cat saat ini menghadapi tantangan yang berat, lahan basah mulai menghilang, 35 persen hutan bakau di bumi telah mongering, dan beralih fungsi.

Banyak hutan bakau yang dijadikan lahan pertanian, perikanan, dan pariwisata serta pembangunan infrastruktur lainnya. Belum lagi sumbatan sampah yang dibawa dari kanal-kanal sungai, juga membuat habitat hutan bakau semakin tercemar dan kotor. Ekosistem lahan basah seperti hutan bakau dan Rawa semakin rusak, kesempatan fishing cat untuk hidup lama di alam liar semakin tipis, belum lagi perburuan liar juga mengancamnya. 

Itulah yang membuat fishing cat termasuk dalam kategori hewan langka yang terancam punah. Sangat mustahil bagi kita bisa menemui kucing ini secara langsung di alam liar saat ini, dan itulah mengapa banyak orang yang tidak mengenal siapa fishing cat.

Di Indonesia keberadaan fishing cat juga sangat kritis, fishing cat sendiri hanya ditemukan di pesisir utara pulau jawa saja. foto terakhir yang memotret penampakan fishing cat diperoleh pada tahun 2016 di sekitar hutan Mangrove Wonorejo Surabaya Jawa Timur.

Fishing cat juga menjadi salah satu dari delapan kucing liar yang dilindungi di Indonesia. Semoga saja nasib fishing cat atau kucing bakau tidak seperti nasib harimau Jawa dan Bali. semoga fishing cat selalu Lestari salam Lestari.