Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Fakta Unik Serigala yang Jarang di Ungkap

Fakta Tentang Serigala Hewan Setia Pasangan

Jika ingin menjadi kuat, maka belajarlah pada singa. Tapi, jika ingin menjadi pemimpin yang hebat, maka belajarlah pada Serigala. Kira-kira seperti itulah kata pepatah Cina kuno dalam mendeskripsikan bahwa serigala memiliki sistem sosial yang jauh lebih baik daripada singa. Kenapa bisa demikian? akan kita bahas pada artikel kali ini, simak sampai habis ya.

Serigala adalah spesies terbesar dari keluarga Canidae atau anjing, ukurannya bisa mencapai satu hingga dua meter, dengan berat badan mencapai 30-80 kg. Serigala tersebar luas di bumi belahan Utara, mulai dari Eropa, Asia, dan Amerika.

Apakah ada serigala di Indonesia? jawabannya adalah tidak ada. Tetapi Indonesia memiliki anjing ajag yang hampir mirip dengan Serigala, tapi keduanya berasal dari subspesies yang berbeda.
Serigala hidup secara berkelompok, satu kelompok serigala adalah satu keluarga besar yang terdiri atas satu ayah dan satu ibu, beserta anggota-anggota kelompoknya. Jumlah anggota kelompok bisa mencapai 2-30 ekor serigala.

Oh ya, kenapa satu ibu dan satu ayah? karena serigala adalah hewan monogami yang setia pada satu pasangan hidup saja. Kalau begitu, bukankah singa juga hidup berkelompok, meskipun suka berpoligami? tapi kan singa mendapatkan gelar sebagai raja hutan? kenapa kita justru belajar kepemimpinan dari serigala. Benar, singa adalah raja hutan yang hidup berkelompok. Namun sayangnya, singa jantan tidak bisa menjadi teladan yang baik bagi seorang pemimpin. Karena dalam kelompok singa, justru para singa betina lah yang aktif berburu, sedangkan singa jantan hanya menunggu hasil buruan dari para betinanya tersebut.

Si singa jantan bertugas mengamankan wilayah kekuasaannya dari singa dan predator lain, namun terkadang saat si betina berhasil melumpuhkan mangsa, si singa jantan ini seringkali merebut hasil buruan dari istri-istrinya tersebut. Waduh gimana menurut kalian, bukankah itu contoh pemimpin yang buruk.

Berbeda dengan serigala yang punya sistem kerjasama antara pemimpin dan anak buahnya yang cukup matang. Jadi, satu kelompok serigala akan dipimpin oleh serigala Alfa yang merupakan ayah dan ibu dari keluarga besar kelompok serigala tersebut. Ada yang mengatakan bahwa justruktur sosial suatu kelompok serigala bisa berubah.

Serigala yang lebih rendah posisinya dalam kelompok, dapat menantang serigala Alfa untuk bisa menjadi pemimpin kelompok. Jika serigala alfa kalah dalam tantangan tersebut, maka ia akan meninggalkan kawannya untuk menjadi serigala yang sendirian, lalu mencari pasangan lain dan memulai kawanan baru.

Namun pendapat mengenai peralihan kekuasaan serigala alfa oleh anggota kelompoknya dengan cara bertarung, mendapatkan banyak perdebatan oleh para ahli. Bahkan istilah serigala alfa tidak dipakai lagi oleh internasional wolf center, karena sifatnya yang tidak saintis dan terlalu mengada-ngada.

Mereka meyakini bahwa kelompok serigala bersifat kekeluargaan, jadi pemimpinnya diturunkan atas hirarki keluarga, bukan dari pertarungan. Namun, saya akan tetap memakai istilah serigala alfa untuk mempermudah kita dalam mengidentifikasi peran suatu kelompok serigala.

Nilai kepemimpinan yang bisa diambil dari serigala adalah dalam hal kerjasama, baik saat berburu, mempertahankan wilayah, maupun saat berkelana. Perhatikan baik-baik, kenapa serigala berjalan dengan cara berbaris? jawabannya adalah untuk menghemat energi perjalanan mereka.

Jika kalian amati baik-baik, yang paling depan adalah serigala terkuat yang biasanya adalah serigala alfa atau pemimpin kelompok. Namun bisa juga bergantian karat tugasnya yang cukup berat. Serigala paling depan bertugas untuk membuka jalan dari tebalnya tumpukan salju, tujuannya adalah supaya anggota yang berjalan di belakangnya bisa dengan mudah tanpa harus memecah salju kembali.

Tidak hanya itu, lihat bagaimana cara mereka berburuk? tidak ada satupun serigala yang diam dan menunggu Byson tersebut tumbang. Semuanya berperan, ada yang bertugas memecah belah kawanan kelompok Byson, ada juga yang fokus membidik byson yang paling mudah dan lemah. Hingga momentum tiba, bison tersebut akhirnya bisa ditumbangka.

Nah, nilai-nilai kerjasama yang ditunjukkan oleh srigala dan kawannya itulah yang patut kita tiru. Dengan bekerjasama, mereka bisa mengalahkan byson yang ukuran dan jumlahnya jauh lebih banyak dari mereka. Tidak hanya itu, dengan bekerjasama mereka juga bisa berkelana tanpa kehabisan banyak energi untuk membelah tebalnya salju