Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

10 Tanda Teman Toxic, Teman tapi Racun Yang Harus Kamu Tahu

Salah satu yang paling berpengaruh dalam hidup kita adalah teman atau sahabat, mereka bisa mempengaruhi semua hal dalam kehidupan kita. Cara berpakaian, cara bicara, kebiasaan, cara berpikir dan banyak hal lain dalam hidup kita yang dipengaruhi oleh seorang teman. Ada teman yang tepat untuk dipertahankan, ada pula teman yang mungkin harus kita hindari atau sedikit demi sedikit kita jauhi.

Tanda Teman yang Toxic
Foto: lifestyle.kompas.com

Nah inilah beberapa tanda atau ciri teman yang patut untuk sedikit demi sedikit kita hindari.


1. NEGATIF DAN SUKA MENGELUH

Sangat penting untuk diri kita untuk menciptakan suasana yang positif, suasana yang optimis dan suasana yang mendukung apa yang kita cita-citakan. Dan salah satu yang paling berpengaruh adalah dunia pertemanan kita.

Kalau kita punya teman yang selalu positif, optimis dan punya cita-cita yang besar, kita juga akan menjadi lebih bersemangat. Saat kita lelah dengan kegagalan, misalnya teman bisa menjadi inspirasi atau memberikan semangat untuk bangkit.

Saat kita lelah untuk mengejar cita-cita, teman akan mendorong kita untuk terus berproses. Tetapi sebaliknya sangat tidak asyik punya teman yang toksik, yang suka mengeluh, pesimis dan selalu berpikir negatif. Baru nemuin kesulitan sedikit, Dia udah bilang nggak bisa, dapat cobaan sedikit sedihnya nggak ketulungan.

Memang Dunia ini penuh dengan hal-hal yang buruk, tetapi bukan untuk dikeluhkan, karena mengeluh tidak akan pernah menyelesaikan masalah. Punya teman yang penuh dengan orang-orang yang seperti itu adalah racun buat diri kita.

Yang perlu kita lakukan adalah segera keluar dan menjauh dari lingkaran pertemanan yang seperti itu, dan temukan teman-teman yang bisa memberikan aura positif untuk kita.


2. TIDAK JUJUR DAN TIDAK BISA DIPERCAYA

Kejujuran dan kepercayaan adalah kunci langgengnya sebuah persahabatan. Persahabatan yang dulu rekad bisa saja langsung hancur, karena tidak ada kejujuran kepada sahabat kita, membagi cerita-cerita yang biasa atau cerita yang rahasia.

Oleh karena itu, kejujuran dan kepercayaan adalah hal yang mutlak dalam sebuah persahabatan. Kalau kita punya teman yang tidak jujur atau mungkin terkesan nya sering menyembunyikan sesuatu, tidak bisa menjaga rahasia, mungkin rasanya kita tidak perlu mempertahankan teman yang seperti itu.


3. MERASA PALING BENAR DAN TIDAK TERBUKA

Seorang teman memang tidak harus setuju dengan semua hal yang kita lakukan, kita mungkin menikmati sebuah hobi tetapi mungkin teman kita tidak. Mungkin kita percaya akan sesuatu, tetapi teman kita tidak mempercayainya dan hal yang seperti itu adalah norma.

Teman yang baik akan mensupport dan menghargai segala perbedaan itu, sebaliknya teman yang toksik akan memaksakan pendapat, kesukaan, kecenderungan agar orang lain sesuai dengan apa yang dia pikirkan.

Perbedaan pendapat akan selalu ada, perselisihan akan selalu ada dan itu adalah normal, yang tidak normal adalah jika teman kita ingin selalu menang sendiri, tidak bisa menghargai dan tidak pernah mau mengalah.

Pertemanan yang baik adalah jika terjadi perselisihan, dia akan selalu mencari jalan tengah. Bagaimana baiknya sebuah win-win solution seorang teman tidak harus percaya pada suatu hal yang sama tetapi teman yang baik harus bisa saling menghargai antara satu dengan yang lainnya.


4. TIDAK ADA TIMBAL BALIK

Teman seharusnya saling mengenal, teman seharusnya saling memahami dan teman seharusnya saling menanggung. Oleh karena itu, harus ada timbal balik antara satu dengan yang lainnya.

Jika kita membantu, seharusnya dia juga membantu, jika kita mengorbankan waktu dan tenaga untuk dia, seharusnya dia juga melakukan yang seperti itu. Bukan berarti kita adalah orang yang oportunis atau ingin diberikan balas budi, tetapi memang seperti itulah sebuah pertemanan yang sehat.

Jika suatu keadaan misalnya memaksa kita untuk meminta tolong kepada teman kita tetapi ternyata dia malah sulit dihubungi, selalu beralasan macam-macam dan kalau lagi senang dia datang, kalau lagi susah dia pergi, maka mungkin saatnya kita perlu untuk mengambil jarak terhadap mereka teman-teman yang seperti itu.


5. TIDAK MEMBUAT BAHAGIA

Semakin lama kita bergaul dengan dia, bukan kebahagiaan yang kita dapatkan. Rasanya ingin cepat sekali pulang kalau bertemu dengan dia, meskipun rasanya ingin buat 1000 alasan ketika dia mengajak untuk hangout atau nongkrong.

Rasanya ingin mematikan handphone, kalau kita chat dengan dia dan hal-hal yang tidak membahagiakan yang lainnya. Bahagia memang subjektif, mungkin ada sesuatu yang kita tidak suka dengan dia, mungkin dia terlalu cerewet, tidak bersih, punya kebiasaan yang buruk, enggak pernah nyambung kalau ngobrol, tidak sehobi atau mungkin alasan-alasan yang tidak bisa kita katakan.


6. KITA MERASA MENJADI LEBIH BURUK

Kadang kita terjebak dalam sebuah pertemanan, mungkin pertemanan terasa biasa atau bahkan mungkin membuat kita bahagia, hubungan kita dengan teman juga cukup baik, tidak ada masalah, mengalir dan menyenangkan, membuat kita bisa tertawa dan bebas melakukan segala sesuatu.

Tetapi, kalau kita evaluasi lebih jauh, ternyata sedikit demi sedikit kita menjadi berubah. Ternyata kita menjadi jarang belajar, ternyata kita menjadi jarang beribadah, ternyata kita jadi tidak disiplin, Nila Academy kita turun dan lain sebagainya.

Memang pertemanan kita menyenangkan, tetapi yang membuat kita menjadi biasa-biasa saja atau justru membuat kita menjadi lebih buruk, alangkah baiknya kita mengevaluasi pertemanan kita itu.


7. MEMIKIRKAN DIRI MEREKA SENDIRI

Apakah teman kita benar-benar tertarik dengan diri kita, tentang prinsip kita, tentang hobi kita, tentang keberhasilan kita ataukah mereka hanya tertarik dengan diri mereka sendiri.

Ketika ngobrol misalnya apakah dia tertarik dengan topik pembicaraan tentang diri kita, ataukah mereka selalu hanya tertarik membicarakan dan menceritakan diri mereka sendiri, sering memotong pembicaraan, mengalihkan pembicaraan agar selalu membicarakan tentang diri mereka.

Nah! cobalah sesekali waktu, disuatu kesempatan mungkin di tengah pembicaraan pilih topik yang sama sekali tidak berhubungan dengan teman kita. Beritahu mereka tentang kerjaan kita, tentang buku yang baru kita baca, tentang tempat yang kita kunjungi dan lihat Seberapa lama dia bisa bertahan sebelum dan mengubah topik pembicaraan menjadi membicarakan diri mereka sendiri.

jika teman kita itu Toxic maka dia akan mengubah tema pembicaraan secepat mungkin.


8. PENAMBAH STRES

Apakah teman kita melepaskan stres atau justru menambah kita menjadi lebih stres, teman yang toxic kadang justru akan membuat kehidupan kita lebih stres.

Misalnya, ketika kita punya masalah kita ceritakan masalah itu kepada mereka berharap ada solusi tetapi bukan solusi yang kita dapatkan. Teman kita justru malah memperkeruh perasaan dan suasana hati kita, seperti memberikan saran yang tidak solutif atau mengompori untuk melakukan hal yang beresiko atau mungkin juga mengajak kita untuk melepas stres dengan cara yang kurang baik. Misalnya dengan menenggak alkohol atau hiburan yang menghambur-hamburkan uang.


9. TUKANG KONTROL

Teman atau sahabat memang harus punya perasaan saling memiliki, tetapi yang dimaksud dengan saling memiliki, bukan berarti berhak untuk mengontrol kehidupan kita. Karena hubungan sosial atau pertemanan bukan hanya terbatas antara kita dengan dia, tetapi jauh lebih luas.

Kita tentu punya teman-teman lain yang hubungannya harus kita jaga juga, teman yang toxic adalah dia yang mengontrol kehidupan kita, misalnya dia jadi nggak suka atau bahkan melarang jika kita misalnya ada rencana untuk jalan bersama teman-teman yang lain. Atau mungkin dia nggak suka kalau kita sibuk dengan pekerjaan dan hobi kita, dan dia selalu ingin kita benar-benar ada hanya untuknya.

Jadi jika kita punya teman yang seperti itu lebih baik kita tinggalkan, karena kita adalah jiwa yang merdeka, kita berhak punya ruang untuk sendiri. Kita berhak punya pertemanan yang jauh lebih luas daripada pertemanan kita dengan dia.


10. MEMANFAATKAN

Apakah teman kita mengambil keuntungan dari kemurahan hati kita, mereka berhutang misalnya, dan mengatakan kalau segera akan mengembalikannya tetap ditunggu-tunggu, ternyata dia tidak kunjung membayar hutangnya.

Mereka meminta bantuan tetapi tidak pernah berterima kasih, mereka memeras belas kasih kita tanpa pernah memikirkan diri kita, mereka hanya memikirkan diri mereka sendiri.

Nah, itulah beberapa ciri atau tanda teman yang toxic. Teman yang toxic ibarat sebuah kapal yang akan segera tenggelam, jika kita memaksakan untuk terus bersama mereka, kita juga pasti akan tenggelam juga.

Syukur-syukur kita bisa mengubah mereka, memberikan nasehat kepada mereka, tetapi jika memang tidak bisa, alangkah baiknya kita yang menjauh dari mereka.

Dan yang perlu diingat adalah dunia ini luas, jangan qnggap kita nggak akan punya teman, jika kita keluar dari lingkungan pertemanan yang toxic itu, kita pasti akan mendapatkan teman yang baru di tempat yang berbeda, teman yang lebih baik, lebih optimis dan lebih membuat kita bahagia.